Sejak beberapa minggu terakhir mulai sekitar awal bulan July 2010 banyak mobil yang mogok di jalan raya, dan semuanya mengalami masalah yang sama, kerusakan fuel pump (pompa bensin). Entah kebetulan atau tidak, satu-satunya persamaan diantara mereka adalah semuanya menggunakan bensin premium. Banyak pihak curiga kualitas bensin premium yang buruk menyebabkan kerusakan fuel pump ini.
Pertamina sendiri selaku distributor bensin premium menyatakan bahwa bensin premium sudah standar dengan RON 88 (Road Octane Number) dan mereka dengan yakin kualitas bensin premium tidak berubah. Satu hal yang perlu diperhatikan, Pertamina selalu mengelak dengan mengatakan bensin premium “sudah standar dengan RON 88″. Padahal kerusakan fuel pump tidak disebabkan oleh hal yang berhubungan dengan RON (octane) bahan bakar. Kerusakan fuel pump lebih dikarenakan bensin yang kotor, bukan karena tingkat octane yang rendah.
Bahan bakar yang kotor akan mengakibatkan fuel pump bekerja keras untuk memompa bahan bakar kedalam ruang pembakaran (combustion chamber) karena kotoran yang terkandung dalam bahan bakar akan menyumbat proses pemompaan itu sendiri. jika hal ini dibiarkan, fuel pump akan macet, dan mesin mati total. Kemungkinan hal ini terjadi lebih besar jika kondisi bahan bakar di dalam tanki hampir habis, karena kotoran banyak mengendap di dasar tanki, sehingga volume kotoran yang terhisap oleh fuel pump lebih banyak.
Hal ini membuat khawatir banyak pengguna kendaraan, terutama mobil karena fuel pump mobil lebih rentan terhadap bensin yang kotor daripada motor. Entah apa yang sebenarnya terjadi, apakah karena pemerintah ingin mengurangi penggunaan bensin bersubsidi sehingga pertamina menurunkan kualitas bensin premium, atau Tuhan sedang bad mood sehingga dia membuat ribuan mobil mogok di Jakarta. Tapi yang jelas, sebaiknya pengendara mobil lebih berhati-hati menggunakan bensin, saya sendiri lebih memilih untuk menghindari penggunaan premium, bahkan bensin produksi pertamina dan beralih menggunakan bensin produksi Shell atau Petronas.