RSS
 

Archive for February, 2011

Hollow Earth Theory

24 Feb

Hollow Earth. Teori yang berpendapat bahwa bumi kita memiliki ruang kosong didalamnya. Teori ini menjelaskan bahwa permukaan bumi hanya setebal 15 Mil saja, lalu terdapat ruang kosong yang kurang lebih 12000 Mil lebarnya hingga inti bumi yang berbentuk sama seperti matahari. Teori ini secara aktual tidak bisa dibuktikan benar, tapi juga tidak bisa dibuktikan salah karena belum pernah ada orang yang menggali lubang sedalam 15 Mil, seperti yang kita tau, pengeboran terdalam yang pernah dilakukan adalah Kola Drilling Project yang dilakukan oleh pemerintah Uni Soviet, yaitu sedalam 6.7 Mil.

Teori ini berpendapat bahwa pusat gravitasi bukan berada di inti bumi, tapi di tengah lapisan bumi (yang tadi saya bilang selebar 15 Mil). Teori ini menginspirasi banyak cerita rakyat dan fiksi mengenai dunia di dalam bumi kita. Sebuah dunia lain dengan inti bumi sebagai matahari, dengan laut, pulau dan kebudayaan yang dihuni oleh mahluk dan tumbuhan raksasa karena dengan atmosfir di dalam bumi dapat membuat mahluk hidup berumur lebih panjang (saya kurang jelas soal teori pendukung hal ini). Mungkin ini pula yang menginspirasi Jules Verne ketika menulis buku “Journey To The Center of The Earth”.

Walau tidak bisa dibuktikan teori ini salah, tapi pada akhir abad 18, teori ini mulai ditinggalkan (apalagi setelah Albert Einstein mempublikasikan General Theory of Relativity pada tahun 1919 yang dibuktikan oleh Arthur Eddington). Dunia sains mulai menilai bahwa teori Hollow Earth tidak relevan. Tapi, bahkan hingga saat ini, dengan pesatnya kemajuan teknologi masih ada sedikit orang yang percaya dan menjadi pengikut teori Hollow Earth. Kadang dikait-kaitkan dengan penampakan UFO dan fiksi ilmiah lainnya.

Tidak bisa dipungkiri memang jika teori ini cukup menarik dan memancing imajinasi banyak orang untuk menulis buku dan cerita fiksi ilmiah. Walau saat ini, lebih banyak orang yang tertawa mendengarnya, dan menganggapnya sebagai teori yang tidak masuk akal.

 
 

(in) Justice

01 Feb

Hampir semua orang menuntut keadilan. Tapi semakin lama saya amati, kebanyakan orang bahkan tidak mengerti apa itu esensi keadilan. Sepertinya keadilan yang mereka maksud adalah keadilan individu, atau keadilan yang menguntungkan pribadi mereka sendiri. Atau ketika mereka menilai sesuatu yang tidak mereka sukai, mereka cenderung lebih mempermasalahkan hal-hal buruk pada objek tersebut. Lebih parahnya, beberapa bahkan tidak pernah sekalipun emncoba melihat sisi positif dari objek yang mereka beri penilaian, dengan sebab yang cukup bodoh menurut saya “karena mereka tidak menyukai objek tersebut”.

Satu contoh, hari ini saya membaca tweet salah satu teman saya, dia bilang “Utang negara Indonesia Jaman Soeharto 55 Milyar USD, Dalam tempo 32 thn, Jaman Sibeye berkuasa dalam kurang 10thn, 155 mlyr udf via:metrotv”. Baiklah, ini jelas bukan masalah kecil, mengesampingkan teman saya itu yang mungkin memang tidak memiliki kredibilitas untuk memberikan pendapat seperti itu. Tapi lihat akhir dari tweet dia, dia bilang dia mengutipnya dari Metro TV yang notabene merupakan stasiun televisi yang cukup besar!

Saya bukan pendukung SBY, saya mungkin bahkan tidak menyukai negara ini karena adanya Pancasila yang tidak saya setujui. Tapi, Metro TV yang (mungkin) dijalankan oleh orang-orang terpelajar bisa terpikir, bahwa tidak adil membandingkan nominal uang dalan era yang berbeda. Karena nilai uang secara sistem memang menurun (Coba pelajari lagi tentang sistem ekonomi dunia kalau tidak percaya). Jadi jika seseorang berkata utang negara RI pada masa pemerintahan Soeharto sebesar USD 55 milyar adalah lebih kecil dari utang pada masa pemerintahan SBY sebesar USD 155 milyar, secara matematika benar, tapi secara ekonomi, masih diragukan.

Saya ingat ketika Soeharto masih menjabat presiden, harga bensin premium Rp. 700, sekarang? lebih dari Rp. 4000. Hampir 6 kali lipatnya. Turunnya nilai uang seperti yang saya bilang diatas bukan hanya mempengaruhi nilai mata uang kita, Rupiah. Tapi mempengaruhi semua mata uang, semua mata uang negara-negara di dunia nilainya turun (sekali lagi, kalau tidak percaya, baca lagi tentang sistem perekonomian dunia).

Saya tidak mengatakan kalau utang negara saat ini lebih kecil dari utang pada masa pemerintahan Soeharto, tapi untuk mengatakan bahwa utang tersebut “nilainya” lebih besar, perlu perhitungan yang terperinci dan akurat. Dan saya meragukan, bahkan Metro TV sendiri telah melakukan hal itu. Saya lebih curiga pemberitaan semacam itu hanya permainan politik pencitraan menjelang pemilihan presiden 2014. Kalian tau siapa pemilik Metro TV? happy

Baiklah, kembali pada masalah keadilan, Saya tidak mengatakan bahwa saya orang yang adil. Saya mungkin bahkan harus berpikir keras untuk bisa memahami definisi dari keadilan, karena pada konteks yang berbeda, definisi-nya bisa berbeda pula. Bagaimana kita bisa menegakan keadilan disaat kita bahkan tidak bisa melontarkan pendapat secara adil? disaat kita tidak bisa bersikap adil dalam skala kecil? РFood for thought happy

 
No Comments

Posted in Blog, Social